//
you're reading...
Journey2PhD

Kontemplasi lentera jiwa, Y04-M10-D03

Empat tahun lalu, aku harus menghadapi suatu kenyataan yang membuatku harus merenung ke mana aku harus melangkah. Aku kehilangan pekerjaanku saat itu lalu menjadi seorang mahasiswa doktoral. Aku tidak tahu apakah itu pilihan yang tepat atau tidak. Saat itu, aku hanya mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Alasanku adalah aku butuh pekerjaan karena jadi pengangguran tidak enak.

Selain itu, aku juga lagi tidak mau meninggalkan Bremen, karena baru stress pindahan dari Bayern dan sudah keluar uang dan waktu untuk urusan pindah rumah ini. Aku juga tidak siap untuk kembali ke Indonesia karena tahun 2013 belum ada BPJS Kesehatan. Aku masih trauma dengan pekerjaani di Semarang dengan gaji yang membuatku tak sanggup mendukung kesehatanku: aku harus kena penyakit tiap 2 minggu sekali. Aku bertanya retoris kenapa BPJS baru ada tahun 2015. Di Bremen, aku sakit 2 atau 3 kali setahun dan di Bayern, aku tidak pernah sakit.

Aku pun memilih tetap di Bremen dan menjadi mahasiswa doktoral di Oldenburg, Niedersachsen. Untuk sementara, aku tidak banyak memikirkan tujuan hidup secara mendalam. Aku hanya perlu mencari topik doktoral. Aku berharap bisa memiliki topik hanya dalam 3 bulan. Akan tetapi kenyataan berkata lain, bukan 3 bulan, melainkan 3 semester yang kudapat, sedangkan beasiswa doktoral hanya 3 tahun. Setengah waktuku habis hanya untuk topik sedangkan aku harus menyelesaikan doktoral.

Kini kurenungkan kalau dengan pembimbing yang gaib seperti ninja, aku tak mungkin menjalani studi doktoral dengan lancar dan tepat waktu. Aku selalu akan dihadapkan dengan dilemma antara keinginan Pembimbing dan keinginan mahasiswa bimbingan a la PhD Comics. Akan selalu ada pembahasan topik PhD yang tidak jelas antara semua pihak yang tidak berpengalaman dalam bimbingan doktoral.

Jorge Cham, 2017, “You Wish”, PhD Comics

Sejak September 2016, aku sudah tidak punya beasiswa lagi untuk melanjutkan studi doktoral ini. Aku mencoba untuk mengerjakan proyek lain dari Pembimbing I, yang diupah untuk 10 jam kerja per minggu dengan tuntutan performa 40 jam kerja. Bagaimana aku bisa sempat mengerjakan topik doktoralku kalau tuntutan proyek lain seperti ini. Selain itu konsentrasiku melemah seiring dengan berbagai tagihan yang datang pada waktu yang tidak nyaman. Proyek singkat ini pun harus berakhir Februari 2017. Aku pun hanya hidup dari sisa tabungan dan beberapa tindakan “financial engineering” yang tidak akan “sustainable”.

Kuputuskan bahwa masalah utamaku adalah finansial. Aku tidak akan bisa berkonsentrasi jika masalah ini belum beres. Aku harus punya cash flow yang mengalir dalam diriku. Setelah itu, barulah aku bisa berpikir mau diapakan kegiatan doktoralku dan proyek nondoktoralku. Aku kembali ke “survival mode”. Aku pun pergi ke Arbeitsamt untuk mendaftar jadi pengangguran dan meminta aktivasi ulang akun di bursa tenaga kerja. Aku pun kembali menjadi pencari kerja.

***

Sebagai orang yang kehilangan sumber mata pencaharian dan mengalami kegagalan penelitian, aku kembali dihadapkan kepada persimpangan jalan. Suatu kejadian yang sama dengan empat (dan delapan) tahun lalu. Aku pun bertanya kepada diriku sendiri, apa sebetulnya tujuan hidupku.

Aku masih belum tahu apa peranku di dunia ini: “what is my legacy for this world?”. Kata orang Jepang, aku belum menemukan Ikigai, “a reason for being” atau makna hidup. Untuk mencapai ini, aku harus menemukan diriku sendiri. Aku harus menemukan Dharma apa yang harus kujalani. Kalau kata Nugie, aku belum menemukan Lentera Jiwaku. Aku pun kembali mempersiapkan diriku menghadapi banyak pertanyaan dari diriku sendiri maupun orang lain, mengenai tujuan hidupku. Kini aku harus memikirkan matang-matang, jawaban apa saja untuk pertanyaan itu.

***

Perjalananku tahun ini dalam mencari tujuan hidup dimulai dari Februari ketika aku kehilangan cash flow.  Aku pun berpikir kalau mau bergerak dalam pencarian jati diriku, aku harus tahu posisiku berada di mana, jadi aku tahu ke mana aku harus melangkah. Aku tidak ingin berjalan menyimpang dari Ikigai atau Dharma. Aku harus kembali ke akarku, di mana aku mulai memijakkan kaki, sebelum aku melewati setiap persimpangan. Aku harus menyalakan lentera jiwaku dalam memilih jalan mana di persimpangan dan juga menghadapi gelapnya lembah nestapa pada perjalanan selanjutnya (valley of shit, Catatan PhD Berdarah 11 Februari 2014). Aku pun berpikir kalau aku harus sejenak kembali ke rumahku, tempat asalku.

Aku pun kembali ke rumahku di Bandung, April lalu. Aku harus mengalami pembaharuan spiritualku. Aku ingin menghirup udara kota Bandung. Aku ingin merasakan bagaimana udara malam kota Bandung memeluk jiwaku. Apakah kota ini masih ramah menjadi rumahku? Apakah aku bisa merasakan Welcome Home?

Di Bandung, aku bertemu dengan kedua orangtuaku. Aku merasa dikuatkan untuk meneruskan PhD ini. Ada harapan untuk hidup dan bekerja di Indonesia dari kedua orangtuaku, asalkan aku lulus PhD. Aku juga bertemu dengan kawan-kawan lama di Bandung. Aku juga berkenalan dengan orang-orang baru. Baca Catatan PhD Berdarah, Mei 2017. Selain itu, aku dibayar kedua orangtuaku untuk menjalani Medical Check-Up di Bandung, lalu diharapkan untuk menjaga kesehatan secara disiplin dalam diet dan olahraga.

Sebagian diriku memang menaruh harapan dengan kota ini. Tapi jika kembali ke Indonesia, aku tak mungkin bekerja tetap sebagai akademia, karena adanya diskriminasi umur. Peluangku adalah pekerja honorer atau pekerja dengan kontrak waktu terbatas: konsultan, freelance, dosen honorer, dll. Juga tidak mungkin punya rumah sendiri dan pasti aku mengontrak rumah terus.

Sejujurnya, aku kehilangan rasa bahwa kota Bandung adalah rumahku. Bandung yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Udara yang kuhirup terasa berbeda. Juga tiada pelukan udara malam kota Bandung untuk jiwaku. Malam di Bandung memberi sedikit kekuatiranku akan begal atau genk motor bawa golok.

***

Usai dari Bandung, aku pun kembali ke Bremen. Kumantapkan diriku untuk menyelesaikan masalah penelitianku satu per satu dan selangkah demi selangkah. Masalah pertama adalah finansial, berarti aku harus mencari kerja. Masalah kedua adalah syarat thesis, yaitu publikasi ilmiah, berarti aku harus mengetik paper secara rutin tiap akhir pekan. Masalah ketiga, tentang proyek nondoktoral, yang mengharuskanku menulis paper. Nah, yang ini, aku belum tahu bagaimana alokasi waktunya. Masalah keempat, yaitu diet dan olahraga.

//platform.twitter.com/widgets.js

Selama bulan Mei, aku mulai bereksperimen dengan pola makan baru. Aku masih sulit mencerna sarapan (yang katanya) sehat. Butuh waktu untuk persiapan dan juga mengunyah. Aku juga bereksperimen dengan jadwal mengetik lamaran kerja, paper untuk doktoral, paper untuk proyek nondoktoral, olahraga, dan tidur. Aku masih belum menemukan jadwal yang pas dan manunggal teori lan praktek. Kini sudah Juni, aku harus lebih disiplin, jika ingin sukses.

Darah Juang!

***

Beginilah lagu Nugie, “Lentera Jiwa”. Silahkan dimaknai.

Ikigai, oh Ikigai, di manakah kamu?

Umur berapakah aku bisa menemukanmu?
Bremen, 3 Juni 2017

iscab.saptocondro

Darah Juang Doktoral — http://drhdrdro.blogspot.com/2017/06/kontemplasi-lentera-jiwa-y04-m10-d03.html

posted on June 03, 2017 at 05:04AM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Advertisements

About iscab.saptocondro

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna (iscab.saptocondro) Blogger, Engineer. I was born in Bandung, Indonesia, and has spent 25 years of my life there. I worked in Semarang, Indonesia, and then continued to study in Bremen, Germany. I work in Germany until I find myself. Well, now, I am a PhD student in Oldenburg, Lower Saxony or Niedersachsen, Germany.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: TODO-Y04-M10-D07 | Darah Juang, Dr. Dro! - June 8, 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Badge

Ignatius Sapto Condro AtmawanBisawarna's Facebook profile

social badge

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna
View Ignatius Sapto Condro's profile on LinkedIn
Instagram

rank

Statistik

  • 10,133 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 780 other followers

%d bloggers like this: